Agustus Tahun Ini

Sajak AA Manggeng

ilalang dekat rumah kita hangus sudah
padahal matahari belum terik benar
kegerahan di malam-malam terakhir juli ini
meninggalkan juni dan
agustus sebentar lagi mengibarkan bendera merah putih
sedangkan juli berangkat dengan peristiwa duka
ulang tahunkah ini, saudaraku
atau kita memperingati orang-orang yang hilang, tertembak dan mati
sambil menyisip duka cita yang kita alami
di bawah bendera tanah air.
ilalang dekat rumah kita hangus sudah
peristiwa kerontang itu dibiarkan lewat begitu saja
sukma kita menyayat luka-luka sejarah
dan air mata tiada arti lagi tumpah
sebab darah mengental di tanah
agustus datang, mengulang-ulang kita kenang
dan juli membuka katub nadi tanah air
dengan denyutnya yang tak beraturan bagai isyarat
kegelisahan dan rasa duka yang mendalam
sebentar lagi agustus datang dan dalam hening
siapa pahlawan yang kita kenang
(ACEH)

Suara Kesabaran

Sajak AA Manggeng

begitu luluhnya hidup dalam kabut
kita ikut dalam barisan upacara
lalu mengikrarkan cita bangsa
ketika bubar kulihat anak-anak berebut mainan
bendera berkibar di langit-langit rumahku
anak-anak membawa bendera seraya berseru:
Indonesia, Indonesia
duhai, duhai
jika saja kabut dalam acara itu menurunkan hujan
kita sama-sama menadahkan tangan tanpa perlu ikrar
tapi ramai-ramai berseru :
Indonesia, Indonesia
basah kuyup kita semua
duhai, duhai
(ACEH, Selalu Agustus)

AA MANGGENG

Lahir 10 februari 1964 di Aceh, aktor panggung teater, sutradara, penyair ini karyanya dimuat di berbagai media massa. Puisinya ikut dalam antologi sastra “seulawah” (yys nusantara,1995). Tim editor buku sastra “keranda-keranda (DKB), “remuk” (DKB) dan antologi esei “takdir-takdir fansury”(DKB). Dosen sekolah menulis Dokarim, Direktur Budaya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD – NIAS.

photos/manggeng

Isyarat Itukah, Ibu

Sajak AA Manggeng


mendung memayungi jalan pada ketergasaanku
lingkup kenangan mengajak pulang
tapi hujan memberuku di terminal waktu

aku terkurung di sini
mengenang masa kanak-kanak bersamamu
karena rindu di sini melebihi gelisahku
jarak lalu merubah dia menjadi rama-rama

kupikir inilah isyarat
melebihi degub berita dukacita
yang arif telah mendekapku sekian kurun waktu
merantaiku di pintu-pintu rahasia

mendung memayungi jalan di keputusanku
ada yang tak sampai ke sukmamu
berulangkali kubaca
ketuaanmu adalah buku
di lembar-lembarnya bertuliskan keabadian kasih

aku dan berikut yang lahir dari rahimmu
menterjemahkan kalimat demi kalimat
menyusun buku baru yang tak sampai-sampai
hingga hujan turun di pelataran terminal tua
membentuk gundukan tanah
tanah yang masih basah oleh kedukaan.

(ACEH)