Sajak AA Manggeng
mendung memayungi jalan pada ketergasaanku
lingkup kenangan mengajak pulang
tapi hujan memberuku di terminal waktu
aku terkurung di sini
mengenang masa kanak-kanak bersamamu
karena rindu di sini melebihi gelisahku
jarak lalu merubah dia menjadi rama-rama
kupikir inilah isyarat
melebihi degub berita dukacita
yang arif telah mendekapku sekian kurun waktu
merantaiku di pintu-pintu rahasia
mendung memayungi jalan di keputusanku
ada yang tak sampai ke sukmamu
berulangkali kubaca
ketuaanmu adalah buku
di lembar-lembarnya bertuliskan keabadian kasih
aku dan berikut yang lahir dari rahimmu
menterjemahkan kalimat demi kalimat
menyusun buku baru yang tak sampai-sampai
hingga hujan turun di pelataran terminal tua
membentuk gundukan tanah
tanah yang masih basah oleh kedukaan.
(ACEH)
